Nama : Asih Hayatunnisa (2222121031)
Kelas : 6B Diksatrasia
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Setelah membaca Roti Semiotik yang Memadai karya Arip Senjaya yang sekaligus dosen
mata kuliah Semiotika saya ini, pertama saya akan terlebih dahulu membahas
mengenai buku ini, kemudian dilanjutkan dengan membahas isi dari buku ini,
yaitu inti dari apa itu semiotika?
1. “Karya
sastra dan pengarang” vs “Roti dan si pembuat roti“
Roti
Semiotik yang Memadai”, pada mulanya saya kurang paham dengan judul yang
disuguhkan oleh bapak Arip ini, apa maksudnya roti semiotik? Terlebih sampulnya
yang bergambar roti berbentuk sandal. Setelah membaca pengantar dari buku ini,
kemudian saya cukup mengerti. Bahwa maksud dari roti semiotik ini, yaitu bapak
Arip ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa dalam karya sastra kita tidak
perlu terlalu memperhatikan pengarangnya, karya sastra dan pengarang ini
diibaratkan roti (karya sastra) dan si pembuat roti (pengarang). Sama halnya
bukan seperti roti yang selalu kita makan dan kita beli, apakah kita pernah
memikirkan si pembuat roti tersebut? Siapakah si pembuat roti tersebut? Mengapa
dia bisa membuat roti seenak ini atau bahkan tidak enak sekalipun? Kita tidak
terpikirkan untuk berpikir kepada siapa yang mebuatnya bukan? Memang betul apa
yang disampaikan oleh bapak Arip, saya pun mengalaminya jika saya memakan atau
membeli roti yang sangat enak, enak biasa, dan tidak enak, saya tidak pernah
berpikir tentang siapa yang membuatnya. Nah begitupun sama halnya dengan karya
sastra yang dimaksudkan oleh bapak Arip Senjaya ini. Tetapi, saya berpikir
lain, karya sastra tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari sang pengarang,
terlebih seperti yang dikatakan Barthes bahwa untuk menjamin lahirnya para
pembaca sastra, maka harus ditebus dengan kematian sang pengarang. Jika kita
melepaskan pengarang, melupakan pengarang, kita tidak akan sepenuhnya mengerti
apa yang dimaksud dari suatu karya tanpa memahami latar belakang pengarang
mengapa ia menulis, apa yang ia maksud dalam tulisannya. Agar pembaca memahami
suatu karya lebih jelas lagi, maka diadakannya bedah buku, bedah buku tidak akan
terlaksana jika tanpa pengarangnya. Kemudian, jika kita mengutip catatan atau
perkataan seorang ilmuwan dalam tulisan kita, kita pasti akan mencantumkan nama
dan tahunnya bukan? Jadi menurut saya, suatu karya apapun itu tidak bisa
dilepaskan dari pengarangnya. Karena karya sastra merupakan suatu karya yang
berharga berasal dari ilmu dan pemikiran seseorang. Begitupun dengan roti yang
jika harganya sangat mahal, sangat enak, dan sangat terkenal, sang pembuat roti
pasti akan dicari tahu dan tidak akan diabaikan.
2. Buku
mengenai Semiotika yang sulit dipahami pembaca
Di
bagian pengantar dalam buku Roti Semiotik
yang Memadai ini, terdapat penjelasan mengenai banyaknya buku Semiotika
yang sulit dipahami pembaca karena penggunaan bahasa yang kurang tepat. Itu
terjadi karena, pengadopsian dari buku berbahasa asing yang diterjemahkan oleh
penerjemah yang kurang memahami ilmu semiotika itu sendiri. Maka timbulah
buku-buku semiotika yang sulit dipahami oleh pembaca. Sulit dipahami pembaca
bukan karena ilmu semiotiknya yang sulit, namun bahasa penyampaiannya yang
kurang tepat sehingga sulit dipahami.
Begitupun
ketika saya membaca buku Roti Semiotik
yang Memadai ini, jujur saja saya kurang paham dengan isi penjelasannya.
Ketidakmengertian saya ini mungkin kosakata yang saya kuasai kurang begitu
luas, karena dalam buku ini terdapat banyak istilah ilmiah yang bagi saya
sendiri cukup tinggi bahasanya, seperti kata realisme, artifisial, konvensi,
epistemologi, holistik, reduksionisme, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kemudian
dalam buku ini penjelasannya diperumpamakan, seperti menggunakan perumpaan
proses komputer, ini membuat saya semakin tidak mengerti karena
ketidakmengertian saya secara mendalam pula terhadap komputer.
Namun,
jika buku ini dibaca oleh pembaca yang berwawasan luas, saya yakin buku ini
sangatlah baik, karena penggunaan katanya yang ilmiah dan penggunaan
perumpamaan yang seperti saya jelaskan di atas, yaitu perumpamaan dengan
menggunakan tahap komputer, lalu terdapat pula perumpamaan dengan nada-nada
musik. Nah begitupun dengan menggunakan perumpamaan nada musik dalam penjelasan
buku ini, karena saya kurang mengerti dengan musik, maka yang dimaksud dalam
buku ini pun saya kurang dapat menangkap dengan baik maksudnya.
Dan satu hal
lagi “ganjalan” yang membuat saya kurang paham dengan isi dari buku ini, yaitu
kutipan-kutipan dari ilmuwan asing yang tidak diterjemahkan. Misalnya, ‘Menurut
Coultas: “The process by which we learn
how to behave within our society is called socialization. Clearly this does not
just affect language use; it is the process by which we learn all the rules,
values and roles that ensure we can function effectively within society”.’
Nah kutipan tersebut tidak diterjemahkan, ini semakin sulit untuk dimengerti
jika pembaca tidak mahir dalam berbahasa Inggris. Ada baiknya, setelah kutipan
berbahasa asing tersebut ditambahkan terjemahannya dalam tanda kurung atau yang
lainnya agar pembaca yang tidak mahir berbahasa Inggris bisa lebih mengerti
maksudnya.
Setelah membahas mengenai cara
penyampaian buku ini, kemudian dilanjutkan dengan membahas isi dari buku ini
yang telah saya tangkap, yaitu inti dari semiotika yang terdapat dalam buku Roti Semiotik yang Memadai.
1. Ilmu
semiotik kurang dikenal
Dalam
buku ini bapak Arip memaparkan bahwa ilmu semiotik kurang terkenal jika
dibandingkan dengan ilmu yang lainnya seperti biologi, matematika, fisika, dan
yang lainnya. Padahal dalam ilmu biologi dan matematika saja misalnya, terdapat
banyak menggunakan tanda dan kode yang merujuk pada semiotika. Menurut saya
mengapa hal ini bisa terjadi, karena semiotika tidak dikenalkan di
sekolah-sekolah dasar dan menengah. Berbeda dengan matematika dan biologi yang
sudah dikenalkan di sekolah dasar dan menengah, maka dari itu matematika dan
biologi sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Berbeda halnya dengan
semiotika, semiotika dikenalkan hanya pada mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia
saja, jangankan di kalangan sekolah dasar dan menengah, di kalangan mahasiswa
pun jika yang selain jurusan Bahasa Indonesia, mereka tidak akan mengenal
semiotika, masyarakat umum hanya mengenal secara umum saja yaitu pelajaran
Bahasa Indonesia atau mata kuliah Bahasa Indonesia. Saya pun mengalami hal
tersebut, ketika saya sebelum menjadi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
sedikitpun saya tidak pernah mendengar tentang semiotika, dan setelah menjadi
mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia pun, saya mengenal istilah semiotika ketika
sudah semester 3.
2. Verbalitas
dan ketidakpercayaan produsen tanda
Dalam
buku ini terdapat penjelasan mengenai verbalitas, setelah saya baca dan pahami
apa itu verbalitas yang dipaparkan oleh bapak Arip, bahwa verbalitas merupakan
ketidakpercayaan produsen tanda terhadap tanda yang ia ciptakan. Dalam buku ini
bapak Arip menjelaskan verbalitas menggunakan contoh logo-logo beberapa
universitas, yaitu Untirta, UGM, dan UPI. Yang saya tangkap bahwa logo untirta
merupakan perpaduan tanda yang sulit dipahami oleh yang melihatnya, karena
terdapat banyak unsur tanda bertumpang tindih, orang awam akan ilmu semiotika
akan sulit mengerti maksud dari logo Untirta tersebut. Berbeda dengan logo UGM,
karena tidak terdapat banyak unsur tanda di dalamnya, maka tidak begitu sulit
orang akan memahaminya.
Namun
menurut saya memang seperti itulah cara kerja logo, logo tidak mudah dipahami
oleh orang yang tidak mahir dalam ilmu semiotika, jika tanpa diberitahu oleh
orang yang memahami arti logo tersebut. Seperti ketika saya semasa sekolah SMP
dan SMA, pada awalnya saya kurang paham dengan logo yang saya gunakan di seragam
saya, termasuk logo daeraj saya yaitu Pandeglang. Namun, karena semasa sekolah
dijelaskan oleh pihak sekolah atau oleh pihak yang mengetahui filosofis logo
tersebut, maka dari itu saya mengerti dan paham. Begitupun dengan logo Untirta,
jika kita hanya menerka-nerka saja mungkin kita tidak akan bertemu dengan
maksud dan arti dari logo tersebut, namun jika kita bertanya pada orang yang
telah mengetahui sejarah atau filosofinya maka kita akan paham artinya. Begitu
sekiranya kurang lebih menurut pendapat saya.
3. Imitasi
dan Plagiasi berbeda
Selanjutya
pada pembahasan imitasi dan plagiasi. Bapak Arip menjelaskan bahwa imitasi dan
plagiasi merupakan dua hal yang berbeda, imitasi merupakan hasil dari
ketidaksadaran seseorang ketika ia menyalin karya orang lain, dan plagiasi
merupakan hasil dari kesadaran seseorang ketika ia menyalin karya orang lain.
Sebelum
saya membaca buku bapak Arip ini, pemahaman saya tentang imitasi yaitu lebih
merujuk kepada ‘barang atau benda’ tiruan/palsu, sedangkan plagiasi yaitu lebih
merujuk kepada ‘tulisan, karangan seseorang yang menyalin tulisan orang lain’.
Imitasi
= barang tiruan
Plagiasi
= tulisan/karangan tiruan (menjiplak)
Sedangkan dalam buku Roti Semiotik yang Memadai ini,
Imitasi =
meniru/menjiplak tanpa sadar
Plagiasi = meniru/menjiplak
dengan sadar
Sekian
yang dapat saya tulis dalam essai ini mengenai buku Roti Semiotik yang Memadai karya Arip Senjaya. Jika berkekurangan
dimohon maaf dan mohon maklumi, jika ada lebihnya Alhamdulillah.
Thursday, March 26, 2015, 11:33:40

Tidak ada komentar:
Posting Komentar