Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Sabtu, 02 April 2016

Essay: Uniknya Semiotik dalam Roti Semiotik yang Memadai karya Arip Senjaya



Nama   : Asih Hayatunnisa (2222121031)
Kelas   : 6B Diksatrasia
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa


            Setelah membaca Roti Semiotik yang Memadai karya Arip Senjaya yang sekaligus dosen mata kuliah Semiotika saya ini, pertama saya akan terlebih dahulu membahas mengenai buku ini, kemudian dilanjutkan dengan membahas isi dari buku ini, yaitu inti dari apa itu semiotika?
1.      “Karya sastra dan pengarang” vs “Roti dan si pembuat roti“
Roti Semiotik yang Memadai”, pada mulanya saya kurang paham dengan judul yang disuguhkan oleh bapak Arip ini, apa maksudnya roti semiotik? Terlebih sampulnya yang bergambar roti berbentuk sandal. Setelah membaca pengantar dari buku ini, kemudian saya cukup mengerti. Bahwa maksud dari roti semiotik ini, yaitu bapak Arip ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa dalam karya sastra kita tidak perlu terlalu memperhatikan pengarangnya, karya sastra dan pengarang ini diibaratkan roti (karya sastra) dan si pembuat roti (pengarang). Sama halnya bukan seperti roti yang selalu kita makan dan kita beli, apakah kita pernah memikirkan si pembuat roti tersebut? Siapakah si pembuat roti tersebut? Mengapa dia bisa membuat roti seenak ini atau bahkan tidak enak sekalipun? Kita tidak terpikirkan untuk berpikir kepada siapa yang mebuatnya bukan? Memang betul apa yang disampaikan oleh bapak Arip, saya pun mengalaminya jika saya memakan atau membeli roti yang sangat enak, enak biasa, dan tidak enak, saya tidak pernah berpikir tentang siapa yang membuatnya. Nah begitupun sama halnya dengan karya sastra yang dimaksudkan oleh bapak Arip Senjaya ini. Tetapi, saya berpikir lain, karya sastra tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari sang pengarang, terlebih seperti yang dikatakan Barthes bahwa untuk menjamin lahirnya para pembaca sastra, maka harus ditebus dengan kematian sang pengarang. Jika kita melepaskan pengarang, melupakan pengarang, kita tidak akan sepenuhnya mengerti apa yang dimaksud dari suatu karya tanpa memahami latar belakang pengarang mengapa ia menulis, apa yang ia maksud dalam tulisannya. Agar pembaca memahami suatu karya lebih jelas lagi, maka diadakannya bedah buku, bedah buku tidak akan terlaksana jika tanpa pengarangnya. Kemudian, jika kita mengutip catatan atau perkataan seorang ilmuwan dalam tulisan kita, kita pasti akan mencantumkan nama dan tahunnya bukan? Jadi menurut saya, suatu karya apapun itu tidak bisa dilepaskan dari pengarangnya. Karena karya sastra merupakan suatu karya yang berharga berasal dari ilmu dan pemikiran seseorang. Begitupun dengan roti yang jika harganya sangat mahal, sangat enak, dan sangat terkenal, sang pembuat roti pasti akan dicari tahu dan tidak akan diabaikan.

2.      Buku mengenai Semiotika yang sulit dipahami pembaca
Di bagian pengantar dalam buku Roti Semiotik yang Memadai ini, terdapat penjelasan mengenai banyaknya buku Semiotika yang sulit dipahami pembaca karena penggunaan bahasa yang kurang tepat. Itu terjadi karena, pengadopsian dari buku berbahasa asing yang diterjemahkan oleh penerjemah yang kurang memahami ilmu semiotika itu sendiri. Maka timbulah buku-buku semiotika yang sulit dipahami oleh pembaca. Sulit dipahami pembaca bukan karena ilmu semiotiknya yang sulit, namun bahasa penyampaiannya yang kurang tepat sehingga sulit dipahami.
Begitupun ketika saya membaca buku Roti Semiotik yang Memadai ini, jujur saja saya kurang paham dengan isi penjelasannya. Ketidakmengertian saya ini mungkin kosakata yang saya kuasai kurang begitu luas, karena dalam buku ini terdapat banyak istilah ilmiah yang bagi saya sendiri cukup tinggi bahasanya, seperti kata realisme, artifisial, konvensi, epistemologi, holistik, reduksionisme, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kemudian dalam buku ini penjelasannya diperumpamakan, seperti menggunakan perumpaan proses komputer, ini membuat saya semakin tidak mengerti karena ketidakmengertian saya secara mendalam pula terhadap komputer.
Namun, jika buku ini dibaca oleh pembaca yang berwawasan luas, saya yakin buku ini sangatlah baik, karena penggunaan katanya yang ilmiah dan penggunaan perumpamaan yang seperti saya jelaskan di atas, yaitu perumpamaan dengan menggunakan tahap komputer, lalu terdapat pula perumpamaan dengan nada-nada musik. Nah begitupun dengan menggunakan perumpamaan nada musik dalam penjelasan buku ini, karena saya kurang mengerti dengan musik, maka yang dimaksud dalam buku ini pun saya kurang dapat menangkap dengan baik maksudnya.
Dan satu hal lagi “ganjalan” yang membuat saya kurang paham dengan isi dari buku ini, yaitu kutipan-kutipan dari ilmuwan asing yang tidak diterjemahkan. Misalnya, ‘Menurut Coultas: “The process by which we learn how to behave within our society is called socialization. Clearly this does not just affect language use; it is the process by which we learn all the rules, values and roles that ensure we can function effectively within society”.’ Nah kutipan tersebut tidak diterjemahkan, ini semakin sulit untuk dimengerti jika pembaca tidak mahir dalam berbahasa Inggris. Ada baiknya, setelah kutipan berbahasa asing tersebut ditambahkan terjemahannya dalam tanda kurung atau yang lainnya agar pembaca yang tidak mahir berbahasa Inggris bisa lebih mengerti maksudnya.
            Setelah membahas mengenai cara penyampaian buku ini, kemudian dilanjutkan dengan membahas isi dari buku ini yang telah saya tangkap, yaitu inti dari semiotika yang terdapat dalam buku Roti Semiotik yang Memadai.
1.      Ilmu semiotik kurang dikenal
Dalam buku ini bapak Arip memaparkan bahwa ilmu semiotik kurang terkenal jika dibandingkan dengan ilmu yang lainnya seperti biologi, matematika, fisika, dan yang lainnya. Padahal dalam ilmu biologi dan matematika saja misalnya, terdapat banyak menggunakan tanda dan kode yang merujuk pada semiotika. Menurut saya mengapa hal ini bisa terjadi, karena semiotika tidak dikenalkan di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Berbeda dengan matematika dan biologi yang sudah dikenalkan di sekolah dasar dan menengah, maka dari itu matematika dan biologi sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Berbeda halnya dengan semiotika, semiotika dikenalkan hanya pada mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia saja, jangankan di kalangan sekolah dasar dan menengah, di kalangan mahasiswa pun jika yang selain jurusan Bahasa Indonesia, mereka tidak akan mengenal semiotika, masyarakat umum hanya mengenal secara umum saja yaitu pelajaran Bahasa Indonesia atau mata kuliah Bahasa Indonesia. Saya pun mengalami hal tersebut, ketika saya sebelum menjadi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedikitpun saya tidak pernah mendengar tentang semiotika, dan setelah menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia pun, saya mengenal istilah semiotika ketika sudah semester 3.

2.      Verbalitas dan ketidakpercayaan produsen tanda
Dalam buku ini terdapat penjelasan mengenai verbalitas, setelah saya baca dan pahami apa itu verbalitas yang dipaparkan oleh bapak Arip, bahwa verbalitas merupakan ketidakpercayaan produsen tanda terhadap tanda yang ia ciptakan. Dalam buku ini bapak Arip menjelaskan verbalitas menggunakan contoh logo-logo beberapa universitas, yaitu Untirta, UGM, dan UPI. Yang saya tangkap bahwa logo untirta merupakan perpaduan tanda yang sulit dipahami oleh yang melihatnya, karena terdapat banyak unsur tanda bertumpang tindih, orang awam akan ilmu semiotika akan sulit mengerti maksud dari logo Untirta tersebut. Berbeda dengan logo UGM, karena tidak terdapat banyak unsur tanda di dalamnya, maka tidak begitu sulit orang akan memahaminya.
Namun menurut saya memang seperti itulah cara kerja logo, logo tidak mudah dipahami oleh orang yang tidak mahir dalam ilmu semiotika, jika tanpa diberitahu oleh orang yang memahami arti logo tersebut. Seperti ketika saya semasa sekolah SMP dan SMA, pada awalnya saya kurang paham dengan logo yang saya gunakan di seragam saya, termasuk logo daeraj saya yaitu Pandeglang. Namun, karena semasa sekolah dijelaskan oleh pihak sekolah atau oleh pihak yang mengetahui filosofis logo tersebut, maka dari itu saya mengerti dan paham. Begitupun dengan logo Untirta, jika kita hanya menerka-nerka saja mungkin kita tidak akan bertemu dengan maksud dan arti dari logo tersebut, namun jika kita bertanya pada orang yang telah mengetahui sejarah atau filosofinya maka kita akan paham artinya. Begitu sekiranya kurang lebih menurut pendapat saya.

3.      Imitasi dan Plagiasi berbeda
Selanjutya pada pembahasan imitasi dan plagiasi. Bapak Arip menjelaskan bahwa imitasi dan plagiasi merupakan dua hal yang berbeda, imitasi merupakan hasil dari ketidaksadaran seseorang ketika ia menyalin karya orang lain, dan plagiasi merupakan hasil dari kesadaran seseorang ketika ia menyalin karya orang lain.
Sebelum saya membaca buku bapak Arip ini, pemahaman saya tentang imitasi yaitu lebih merujuk kepada ‘barang atau benda’ tiruan/palsu, sedangkan plagiasi yaitu lebih merujuk kepada ‘tulisan, karangan seseorang yang menyalin tulisan orang lain’.
Imitasi = barang tiruan
Plagiasi = tulisan/karangan tiruan (menjiplak)
Sedangkan dalam buku Roti Semiotik yang Memadai ini,
                        Imitasi = meniru/menjiplak tanpa sadar
                        Plagiasi = meniru/menjiplak dengan sadar

            Sekian yang dapat saya tulis dalam essai ini mengenai buku Roti Semiotik yang Memadai karya Arip Senjaya. Jika berkekurangan dimohon maaf dan mohon maklumi, jika ada lebihnya Alhamdulillah. 


Thursday, March 26, 2015, 11:33:40

Tidak ada komentar:

Posting Komentar